Masa remaja memeng masa yang tiada habisnya, terus dibicarakan, dikenang, dan takan terlupakan. Saat kita menjalani masa ini, kita dapat merasakan gejala-gejala hidup yang belum pernah dialami, bahkan tidak terfikirkan akan terjadi. Memang mengejutkan, mengasyikkan, bahkan menakutkan. Dalam masa ini pula kita mulai mengambil peran, khususnya segi sosial. Dahulu ketika keluarfga ada masalah, kita asik-asikan dengan teman bermain, seperti d irumah tiada masalah. Dahulu ketika ada masalah, pasti orangtua yang menyelesaikan. Tapi sekarang--sudah remaja--maunya masalah tersebut diselesaikan sendiri, kalau ada yang yang membantupun pengennya teman, gak mau orangtua.
Komplikasi masalah, menghadang remaja. Mulai masalah kutil hingga sebesar gunung. Salah satu masalah yang kerap dialami adalah 'gagal'. Ya, kegagalan yang tidak diinginkan, kegagalan yang menyedihkan, kegagalan yang tidak ditunggu-tunggu. Entah gagal dalam berteman, gagal tidak mendapat ranking, gagal lomba lari, gagal lomba karya tulis, kalah lomba pidato, gagal meraih beasiswa, pokoknya judulnya gagal. Menyakitkan memang. Namun, dari gagal tersebut kita tambah dewasa.
Saat gagal menyapa, jangan berani sekali-kali memvonis diri tidak bisa, merendahjkan diri, bahkan putus asa. Perlu diketahui: Orang sukses, orang berprestasi, yang namanya gagal merupakan makanan mereka. Ketika kita gagal, kita harus bersikap "Saya siap gagal, karna saya siap menang(sukses)". Jangan katakan takut pada kegagalan tapi lawan. Yaitu dengan cara mengevaluasi diri, "Kenapa saya gagal? Mengapa mereka berhasil? Apa kelebihan mereka? Apa kesalahan dan kekurangan saya? Apa yang perlu diperbaiki? Apa yang perlu dilakukan? ". Jangan jadi pribadi cengeng, saat gagal menghampiri, lalu putus asa. Jadilah pribadi tangguh, yang siap menerima kegagalan. Dengan kegagalan, kekurangan dan kesalahan dapat diperbaiki dan menyiapkan diri menjadi pribadi sukses.
"Sukses memang kata yang paling enak didengar, indah untuk dibayangkan, namun paling pahit untuk diraih. Sukses menjadi cita-cita yang tertulis disetiap benak manusia. Pagi, siang, sore, dan malam hari. Kesuksesan menjadi bahan perbincangan mulut-mulut penuh opt0imise. Jika di suatu tempat ada kesuksesan, maka disanalah manusia berkumpul sekalipun dalam api yang membara." Begitulah Toha nasrudin menggambarkan sukses atau kesuksesan, dalam bukunya "Peta harta karun".
Namun kemanisan sukses harus dihadapi dengan penderitaan terlebih dahulu. Langkah-langkah kegagalan harus diterima sebagai 'Guru kehidupan'. Belajar dari kegagalan membantu kita mencapai hasil yang lebih maksimal.
Kegagalan diibaratkan dua jurang pemisah antara harapan dan kenyataan. Berapa banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan tragis karena tidak tahan menahan derita kegagalan. Namun, berapa banyak pula kegagalan yang membawa seseorang pada kesuksesan.. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Mau gagal yang terperongsok atau gagal yang bermuara pada kemenangan.
Pepatah mengatakan, "Kegagalan adalah sukses yang tertunda". Afifah afra dalam bukunya"The winner is," mengatakan "Orang yang berprestasi adalah orang yang setia pada proses, tekun dan sabar menjalani proses, karena berprestasi sendiri adalah proses." Jadi, kegagalan adalah proses menuju gerbang kesuksesan. Bahkan wong kesuksesan sendiri merupakan proses. Dapat kita bayangkan bila Thomas alfa edison putus asa dalam menciptakan lampu, yang ribuan kali gagal. Maka kita saat ini--malam tiba--gelaplah yang ada. Ketika Albert einstein gagal masuk sekolah di Edigeno technische Hochschule (ETH), dise4babkan nilai bahasa inggris, prancis, ilmu botani, ilmu hewan anjlok (Padahal keahlian fisikanya tidak diragukan lagi). Bila ia putus asa, tentu tidak akan ada teori Relativitas yang sangat berguna itu.
Sepatutnya kita membuntuti (mengamini) orang-orangh yang menganggap kegagalan sebagai suatu anugrah dan menjadikannya cambuk motivasi. Mereka menganggap kegagalan sebagai suatu persimpangan jalan menuju kesuksesan. Mereka belajar dari kegagalan, agar hal serupa tidak terulang lagi.
So, Apakah kita siap sukses? Jika siap, berarti kita siap gagal. Nikmatillah dan pelajari kegagalan yang ada dengan dibarengi evaluasi-evaluasi. Siap menerima kritik dan saran. Siap bekerja keras, serta tak lupa berdoa. Ingat, Jangan Takut Gagal, Tapi Lawan! Maka siaplah menjadi pribadi sukses.
JANGAN TAKUT GAGAL TAPI LAWAN
Masa remaja memeng masa yang tiada habisnya, terus dibicarakan, dikenang, dan takan terlupakan. Saat kita menjalani masa ini, kita dapat merasakan gejala-gejala hidup yang belum pernah dialami, bahkan tidak terfikirkan akan terjadi. Memang mengejutkan, mengasyikkan, bahkan menakutkan. Dalam masa ini pula kita mulai mengambil peran, khususnya segi sosial. Dahulu ketika keluarfga ada masalah, kita asik-asikan dengan teman bermain, seperti d irumah tiada masalah. Dahulu ketika ada masalah, pasti orangtua yang menyelesaikan. Tapi sekarang--sudah remaja--maunya masalah tersebut diselesaikan sendiri, kalau ada yang yang membantupun pengennya teman, gak mau orangtua.
Komplikasi masalah, menghadang remaja. Mulai masalah kutil hingga sebesar gunung. Salah satu masalah yang kerap dialami adalah 'gagal'. Ya, kegagalan yang tidak diinginkan, kegagalan yang menyedihkan, kegagalan yang tidak ditunggu-tunggu. Entah gagal dalam berteman, gagal tidak mendapat ranking, gagal lomba lari, gagal lomba karya tulis, kalah lomba pidato, gagal meraih beasiswa, pokoknya judulnya gagal. Menyakitkan memang. Namun, dari gagal tersebut kita tambah dewasa.
Saat gagal menyapa, jangan berani sekali-kali memvonis diri tidak bisa, merendahjkan diri, bahkan putus asa. Perlu diketahui: Orang sukses, orang berprestasi, yang namanya gagal merupakan makanan mereka. Ketika kita gagal, kita harus bersikap "Saya siap gagal, karna saya siap menang(sukses)". Jangan katakan takut pada kegagalan tapi lawan. Yaitu dengan cara mengevaluasi diri, "Kenapa saya gagal? Mengapa mereka berhasil? Apa kelebihan mereka? Apa kesalahan dan kekurangan saya? Apa yang perlu diperbaiki? Apa yang perlu dilakukan? ". Jangan jadi pribadi cengeng, saat gagal menghampiri, lalu putus asa. Jadilah pribadi tangguh, yang siap menerima kegagalan. Dengan kegagalan, kekurangan dan kesalahan dapat diperbaiki dan menyiapkan diri menjadi pribadi sukses.
"Sukses memang kata yang paling enak didengar, indah untuk dibayangkan, namun paling pahit untuk diraih. Sukses menjadi cita-cita yang tertulis disetiap benak manusia. Pagi, siang, sore, dan malam hari. Kesuksesan menjadi bahan perbincangan mulut-mulut penuh opt0imise. Jika di suatu tempat ada kesuksesan, maka disanalah manusia berkumpul sekalipun dalam api yang membara." Begitulah Toha nasrudin menggambarkan sukses atau kesuksesan, dalam bukunya "Peta harta karun".
Namun kemanisan sukses harus dihadapi dengan penderitaan terlebih dahulu. Langkah-langkah kegagalan harus diterima sebagai 'Guru kehidupan'. Belajar dari kegagalan membantu kita mencapai hasil yang lebih maksimal.
Kegagalan diibaratkan dua jurang pemisah antara harapan dan kenyataan. Berapa banyak orang yang mengakhiri hidupnya dengan tragis karena tidak tahan menahan derita kegagalan. Namun, berapa banyak pula kegagalan yang membawa seseorang pada kesuksesan.. Sekarang pilihan ada di tangan kita. Mau gagal yang terperongsok atau gagal yang bermuara pada kemenangan.
Pepatah mengatakan, "Kegagalan adalah sukses yang tertunda". Afifah afra dalam bukunya"The winner is," mengatakan "Orang yang berprestasi adalah orang yang setia pada proses, tekun dan sabar menjalani proses, karena berprestasi sendiri adalah proses." Jadi, kegagalan adalah proses menuju gerbang kesuksesan. Bahkan wong kesuksesan sendiri merupakan proses. Dapat kita bayangkan bila Thomas alfa edison putus asa dalam menciptakan lampu, yang ribuan kali gagal. Maka kita saat ini--malam tiba--gelaplah yang ada. Ketika Albert einstein gagal masuk sekolah di Edigeno technische Hochschule (ETH), dise4babkan nilai bahasa inggris, prancis, ilmu botani, ilmu hewan anjlok (Padahal keahlian fisikanya tidak diragukan lagi). Bila ia putus asa, tentu tidak akan ada teori Relativitas yang sangat berguna itu.
Sepatutnya kita membuntuti (mengamini) orang-orangh yang menganggap kegagalan sebagai suatu anugrah dan menjadikannya cambuk motivasi. Mereka menganggap kegagalan sebagai suatu persimpangan jalan menuju kesuksesan. Mereka belajar dari kegagalan, agar hal serupa tidak terulang lagi.
So, Apakah kita siap sukses? Jika siap, berarti kita siap gagal. Nikmatillah dan pelajari kegagalan yang ada dengan dibarengi evaluasi-evaluasi. Siap menerima kritik dan saran. Siap bekerja keras, serta tak lupa berdoa. Ingat, Jangan Takut Gagal, Tapi Lawan! Maka siaplah menjadi pribadi sukses.
Labels:
A TULISAN terANYAR
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)




0 comments:
Poskan Komentar
Trims telah ber-Comment-Comment